Seringkali, istilah “content writing” dan “copywriting” digunakan secara bergantian, seolah-olah keduanya sama. Padahal, meskipun keduanya berkaitan dengan penulisan, tujuan dan pendekatannya sangat berbeda. Memahami perbedaan mendasar ini krusial bagi kesuksesan strategi pemasaran dan konten Anda. Artikel ini akan mengungkap perbedaan kunci antara content writing dan copywriting, sehingga Anda dapat memilih strategi penulisan yang tepat untuk kebutuhan Anda.
Daftar Baca
Tujuh Perbedaan Kunci Content Writing dan Copywriting
Berikut adalah tujuh poin penting yang membedakan content writing dan copywriting:
-
Tujuan Utama:
Content writing bertujuan untuk memberikan informasi, edukasi, atau hiburan kepada pembaca. Fokusnya adalah membangun hubungan jangka panjang dengan audiens, meningkatkan otoritas brand, dan membangun kepercayaan. Contohnya: artikel blog, panduan, e-book, dan posting media sosial yang informatif.
Copywriting, di sisi lain, bertujuan untuk mendorong tindakan spesifik dari pembaca. Tujuan utamanya adalah konversi, baik itu berupa penjualan produk, pendaftaran newsletter, atau klik tautan. Contohnya: iklan, deskripsi produk, email marketing, dan landing page.
-
Pendekatan:
Content writing mengambil pendekatan yang lebih holistik dan informatif. Penulis fokus pada penyampaian informasi yang bernilai bagi pembaca, tanpa tekanan langsung untuk melakukan pembelian atau tindakan tertentu. Mereka membangun kepercayaan dan kredibilitas.
Copywriting lebih persuasif dan langsung pada intinya. Penulis menggunakan teknik-teknik khusus untuk meyakinkan pembaca untuk mengambil tindakan yang diinginkan. Ini melibatkan pemahaman yang mendalam tentang psikologi konsumen dan “call to action” yang kuat.
-
Panjang Konten:
Content writing seringkali menghasilkan konten yang lebih panjang dan detail. Artikel blog, misalnya, dapat mencapai ribuan kata untuk menjelaskan suatu topik secara menyeluruh.
Copywriting cenderung lebih singkat dan padat. Fokusnya adalah pada menyampaikan pesan utama dengan jelas dan ringkas, guna menghindari kehilangan perhatian pembaca.
-
Keyword:
Content writing menggunakan keyword untuk optimasi SEO, namun pendekatannya lebih organik dan natural. Tujuannya adalah meningkatkan visibilitas website di mesin pencari dalam jangka panjang.
Copywriting juga menggunakan keyword, tetapi pendekatannya lebih tertarget dan fokus pada keyword yang berhubungan langsung dengan tindakan yang diinginkan. Kata kunci dipilih berdasarkan riset kata kunci yang bertujuan untuk meningkatkan konversi.
-
Tone of Voice:
Content writing bisa memiliki berbagai tone of voice, tergantung pada audiens dan topiknya. Bisa bersifat informatif, menghibur, inspiratif, atau bahkan humoris.
Copywriting biasanya memiliki tone of voice yang lebih persuasif dan meyakinkan. Penulis menggunakan bahasa yang lebih kuat dan menekankan manfaat bagi pembaca.
-
Metrik Pengukuran:
Content writing diukur melalui metrik seperti engagement (likes, shares, comments), waktu tinggal di halaman, dan peningkatan trafik organik.
Copywriting diukur melalui metrik konversi seperti penjualan, jumlah lead, dan klik tautan.
-
Contoh:
Content writing: Artikel blog tentang manfaat olahraga bagi kesehatan.
Copywriting: Iklan yang mempromosikan sepatu lari dengan penawaran diskon terbatas.
Kesimpulan
Meskipun keduanya menggunakan kata-kata, content writing dan copywriting memiliki tujuan, pendekatan, dan metrik pengukuran yang berbeda. Memahami perbedaan ini sangat penting untuk mengembangkan strategi konten yang efektif dan mencapai tujuan pemasaran Anda. Pilihlah jenis penulisan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan sasaran Anda.